Dalam rangka memperingati Pater Leo Perik, SMAS Seminari Pius XII Kisol adakan lomba mading pada Kamis sore (1/10). Pada tahun ini, Panitia perlombaan mengusung tema, “Gempa Flores; Refleksi dan Solidaritas dalam bingkai kata dan karya”. Tema ini menyoroti peristiwa gempa Flores yang terjadi 15 Agustus 2026 lalu.
RD. Milin Kowa, Kepala SMAS Seminari Pius XII Kisol, mengungkapkan bahwa perlombaan ini merupakan ajang potensi untuk terus mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki. “Tulisan yang kalian buat, merupakan bentuk perwujudan diri kalian. Sehingga dengan tulisan, kalian dapat dikenal!” Ungkap Imam Keuskupan Ruteng tersebut.
Panitia menunjuk Pak Arsi Juwandy, Ibu Arni Lepu, Ibu Vika Ndahu dan Pak Aco Sadasom sebagai juri. Setiap peserta menjadi perwakilan dari empat tim, diantaranya Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina. Masing-masing tim diwajibkan mengutus 10 orang sebagai perwakilan, serta memilih 2 orang sebagai presenter.
Setiap tim memiliki waktu 60 menit untuk menghias dan merancang model mading. Kelas XI dipercayakan untuk memimpin keempat tim. Masing-masing tim meracik beragam judul. Tim Prancis mengusung judul, Gempa dan Gereja. Sementara itu, Spanyol meracik judul dengan, Harapan dalam kecemasan. Tim Argentina juga merancang mading dengan judul, Cerita dalam duka. Tim Inggris kemudian mengunakan kreativitasnya dengan mengusung judul, Gempa dan sukacita; jalan lain menuju kebaikkan.
Setelah persiapan yang cukup melelahkan, para juri diberi kesempatan untuk berkeliling melihat mading. Selepas itu, para presenter diberi waktu 7-10 menit untuk mempresentasikan karya tim. Masing-masing tim memiliki kesamaan terhadap perspektif mereka akan gempa Flores 15 Agustus 2026. Bila dirangkum, mereka melihat gempa Flores sebagai peristiwa duka yang menuntut Gereja dan Pemerintah untuk membawa sukacita.
Para juri diberi waktu untuk menilai keempat tim. Ibu Arni selaku perwakilan juri membaca juara tersebut. “Spanyol memperoleh 356 poin, Argentina 303 poin, Prancis 334 dan Inggris 365 poin” ungkapnya.
Dengan demikian, tim Inggris meraih juara pertama, kemudian di posisi kedua Spanyol. Sementara itu, Prancis dan Argentina harus puas dengan juara Harapan I dan II. “Saya merasa senang mengikuti perlombaan ini. Jujur saja, saya mengalami trauma berat setelah peristiwa gempa 15 Agustus 2026 lalu. Tetapi, perlombaan ini perlahan-lahan menghilangkan trauma saya. Meskipun tim kami menempati posis ketiga, saya sangat bangga dengan pencapaian itu” ujar Leon Vanvester (X), setelah diwawancarai oleh tim Puspita.
“Penampilan anak-anak sangat baik, dilihat dari kekompakan mereka saat bekerja sama ketika menempelkan mading. Setiap orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang mengerjakan karikatur, ada yang menempelkan tulisan di papan mading, ada juga yang mengerjakan background mading agar terlihat bagus sesuai dengan konsepnya masing-masing”, tutur Ibu Sri Ratna, Panita Perlombaan mading.
“Kemampuan berbicara dan pemahaman mereka tentang mading yang mereka tulis juga sangat baik”, tutur Guru Bimbingan Konseling tersebut.
Tejo Ngarung
0 Comments