Seminari Pius XII Kisol histudy
  • Home
  • Tentang Kami
    • Sambutan
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Fasilitas
    • Profil Formator
    • Mars Sanpio
  • SMP
    • Profil
    • Berita
    • Kegiatan
  • SMA
    • Profil
    • Berita
    • Kegiatan
  • Asrama
  • Program
    • Aktivitas
    • Kalender Akademik
  • Berita
    • Umum
    • Penelitian
    • Pendidikan
    • Budaya
    • Opini
  • Hubungi Kami
Seminari Pius XII Kisol histudy

Selamat datang di Seminari Pius XII Kisol

  • admin@seminaripiusxii.sch.id
  • +1-202-555-0174
  • Home
  • Tentang Kami
    • Sambutan
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Fasilitas
    • Profil Formator
    • Mars Sanpio
  • SMP
    • Profil
    • Berita
    • Kegiatan
  • SMA
    • Profil
    • Berita
    • Kegiatan
  • Asrama
  • Program
    • Aktivitas
    • Kalender Akademik
  • Berita
    • Umum
    • Penelitian
    • Pendidikan
    • Budaya
    • Opini
  • Hubungi Kami
Sosial Media
blog banner background shape images
  • Rein Pondang
  • October 7, 2026

Mengenang dalam Drama dan Seribu Lilin

  • 33 Views
  • No Comments
  • Berita,Pendidikan,Sma,Umum
Mengenang dalam Drama dan Seribu Lilin

Pada Minggu malam (04/10), Lapangan Seminari Pius XII Kisol tampak dipadati banyak orang. Sebagai bagian dari Peringatan Hari Pater Leo Perik, Para seminaris Kelas X membawa drama, dengan judul SANDIWARA. Drama dimulai pada pukul 19.00 WITA. Acara ini dihadiri oleh begitu banyak orang, mulai dari anggota komunitas Seminari Pius XII Kisol sampai umat paroki Kisol.

Teater ditampilkan oleh teman-teman kelas X SMAS Seminari Pius XII Kisol atau lebih sering disebut Sanpio 68. Dengan judul “SANDIWARA”, mereka mengangkat sebuah permasalahan yang sering dialami dalam perjalanan panggilan, yaitu masalah pergumulan hidup antara pilihan menjadi seorang imam atau menjadi seorang awam. Tema tersebut dipilih karena sangat relevan bagi para seminaris dan bagi siapa saja yang sedang menjawabi panggilan hidupnya.

“SANDIWARA” berkisah tentang seorang seminaris kelas XII di Seminari Kisol  bernama Tuang. Ia merupakan seorang anak yang ingin menjadi imam. Ayahnya adalah seorang berwatak keras sedangkan ibunya adalah seorang yang lemah lembut. Drama ini diawali dengan cerita bahwa ibu dari Tuang meninggal dunia. Musibah tersebut meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi Tuang.

Ketika liburan sekolah datang, tokoh utama pulang ke rumah. Ia sangat kesepian sebab ibunya telah tiada. Tinggal bersama ayahnya tidak mampu mengobati luka tersebut. Akibatnya perangai Tuang perlahan-lahan berubah, ia menjadi orang yang penyendiri, malas pergi misa, pemarah, dan berlaku tidak sopan terhadap ayahnya. Perubahan itu disadari oleh pastor Paroki selaku pembimbing rohaninya.

Pada puncak cerita, terjadi konflik besar antara Tuang dengan ayahnya. Mereka beradu mulut dan memelihara ego masing-masing. Saat konflik itu memanas, datang pastor paroki mendamaikan mereka berdua lewat kesaksian hidup. Setelah momen itu, ditunjukkan bahwa hubungan antara Tuang dengan ayahnya membaik. Tuang kembali menjadi seorang yang rajin, baik, dan murah hati.

Selama pertunjukan, orang-orang yang hadir mengalami guncangan emosi yang naik turun. Reaksi yang ditimbulkan berbeda-beda dari setiap penonton, gelak tawa, celetukan lucu, teriakan, dan suara yang menyuruh tokoh utama untuk jangan menangis terus meramaikan malam itu.

“Dramanya bagus. Drama ini sangat khas dengan kehidupan para seminaris. Drama ini menunjukkan kalau banyak orang tua seringkali memaksakan pilihan anak-anaknya. Banyak anak-anak kemudian menjalankan hidup hanya karena paksaaan orang tua. Terutama, kita disadarkan supaya tidak memaksa mereka yang berada dalam jalan panggilan”, ujar Ibu Vika Ndahu, Ketua Panitia Hari Pater Leo untuk SMPS Seminari Pius XII Kisol.

“Ending drama ini sangat plot twist sekali. Saya tidak menduga, kalau tokoh utama akan menolak untuk menjadi imam. Saya pikir, ini bagus sekali. Akhir dari drama ini betul-betul tidak bisa ditebak dan di luar ekspetasi saya”, tukas guru Bahasa Indonesia tersebut.

Malam Seribu Lilin

Drama ditutup dengan gerakan Seribu Lilin. Setiap pengunjung yang hadir diberikan satu lilin dan mereka semua bersama-sama mendaraskan doa rosario. Bagian ini membuat atmosfer lapangan menjadi sangat syahdu. Terdapat keagungan yang damai muncul dari setiap untaian doa yang dilantukan.

Aksi seribu lilin ini diperuntukan untuk jiwa-jiwa korban gempa Flores sejak 15 Agustus kemarin. Dalam aksi ini, lilin dinyalakan untuk mengenang semua korban jiwa yang telah meninggal dunia. Pada saat yang sama, aksi seribu lilin ini juga dilaksanakan untuk mengenang para pendiri, pendahulu, penjasa, dan perintis Seminari Pius XII Kisol.

“Aksi seribu lilin ini bukan hanya sekedar doa, tetapi cara lain kita untuk berdamai dengan gempa. Gempa memang menghatam Flores, tetapi kita tidak bisa terus tinggal dalam duka gempa. Waktu terus berjalan, dan kita harus terus hidup”, tukas Fr. Rein Pondang, Pendamping SMAS Seminari Pius XII Kisol.

Keseluruhan acara berakhir pada pukul 21.00 WITA. Ditutup oleh berkat Tuhan dari tangan RD. Ferry Warman, Preases Seminari Pius XII Kisol. Setelah itu, Sanpio 68 selaku penanggung teater melakukan evaluasi bersama. Di waktu yang sama para pengunjung pulang ke rumah mereka masing-masing.

Teater SANDIWARA yang dibawakan sekedar acara tahunan biasa. Lebih dari itu kegiatan seperti ini merupakan sebuah cara untuk menumbuhkan lilin harapan ketika angin kehidupan memudarkannya. Selayaknya Pater Leo yang menyalakan lilin tersebut lewat karya dan pelayanannya. Diharapkan para pengunjung yang hadir mampu menyalakan kembali api tersebut lewat keseharian mereka.

”Teater yang dibawakan oleh Sanpio 68, merupakan sebuah tempat jual lampu bagi saya. Sebab, setelah menyaksikan karya ini saya mendapatkan sebuah penerang dalam menentukan pilihan saya sebagai seorang calon imam,” ujar Mario Ngiko seorang siswa kelas XI setelah diwawancara oleh tim liputan PUSPITA.

Nera Liberty,

0 Comments

Add Your Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Berita Terkait

Mengenang Pater Leo Lewat Doa dan Nyanyian
Read Article
Kreativitas dalam Kata: Merefleksikan Gempa Bumi dalam Lomba Mading
Read Article
Pelantikan OSIS: Regenerasi Dirajut dalam Harapan, Persaudaraan, dan Sukacita
Read Article
Footer Logo
Footer Dark Mode Logo

Temukan banyak update dan konten menarik lainnya di sosial media kami

Tautan Cepat
  • Hubungi Kami
Jelajahi
  • Tentang Kami
  • Kegiatan
  • Berita
  • Kalender Akademik
Kontak
  • Telepon: 406555-0120
  • E-mail: admin@seminaripiusxii.sch.id

Lokasi

  • Kisol, Kelurahan Tanah Rata, Kec. Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur

©2025. All rights reserved.