Pada akhir pekan Sabtu (8/08), Komunitas Seminari Pius XII Kisol harus melepas salah satu formator: RD. Eduardus Sateng Tanis. Ia diutus dalam perayaan ekaristi di Kapela Agung Seminari Pius XII Kisol, kemudian disempurnakan dalam resepsi di Aula Seminari Pius XII Kisol. Komunitas Seminari Pius XII Kisol harus melepas imam Keuskupan Labuan Bajo ini dengan berat hati dan isak tangis. RD. Ardus Tanis harus menyelesaikan masa baktinya di Seminari Pius XII Kisol setelah 20 tahun mengabdi, terhitung sejak 2006-2026.
Tepat pukul 09.00 WITA rangkaian sudah dimulai. Pada kesempatan pertama diadakan misa perpisahan yang dilaksanakan di Kapela Agung Sanpio. Perayaan ekaristi dipimpin secara konselebran dengan RD. Ferry Warman sebagai selebran utamanya. Misa dihadiri oleh begitu banyak umat, tokoh-tokoh pendidikan, keluarga, dan kenalan dari RD. Ardus Tanis. Walau ramai suasana perayaan syukur tersebut sangat khidmat dan berjalan dengan khusyuk.
Pada akhir perayaan ekaristi, RD. Ardus Tanis menyampaikan salam perpisahan dan mengenang kembali pengalamannya selama 20 tahun berkarya. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih kepada semua orang yang telah dengan caranya masing-masing mengambil bagian dalam perjalanan panggilannya di Seminari Pius XII Kisol. Beliau berharap agar kiranya lembaga tercinta ini semakin maju dan semakin mampu mengukir wajah Kristus di tengah-tengah dunia.
Usai perayaan ekaristi, seluruh hadirin dan tamu undangan diajak untuk dipindahkan ke Aula Seminari Pius XII Kisol. Acara seremonial dimulai pada pukul 12.00 dibuka dengan makan siang bersama. Selama makan siang, semua hadirin disuguhi oleh penampilan-penampilan yang sangat apik yang dibawakan oleh para seminaris dan para guru. Mulai dari suara merdu dari Band Sanpio dan kelompok Sanvox, acara dari para para frater, dan musikalisasi puisi yang menyihir pendengar dengan kata-kata yang indah bak punjangga abad pertengahan. Semuanya ditampilkan untuk meramaikan acara pelepasan RD. Ardus Tanis.
Pada puncaknya, diadakan pemberian cendera mata dari Sanpio kepada Rm. Ardus. Salah satu cendera mata tersebut adalah gambar wajah Rm. Ardus yang digambar oleh Dede Empang, salah seorang seminaris kelas XII. Para guru, karyawan, dan DPP Paroki St. Yosef Kisol juga turut memberikan bingkisan kenangan untuk RD. Ardus Tanis. Pada kesempatan itu, OM Berto, karyawan BLLK Seminari Kisol, tidak bisa menahan isak tangis. Jelasnya, isak tangis itu membuka seluruh isak tangis untuk seluruh hadirin. Banyak yang hadir kemudian ikut meneteskan air mata perpisahan untuk RD. Ardus Tanis.
Selanjutnya, semua yang hadir melakukan tradisi turun-temurun untuk melepas pergi seseorang yaitu Sayonara . Di mana seluruh yang hadir, menjabat tangan RD. Ardus sebagai tanda bahwa mereka merelakan RD. Ardus untuk bermisi di tempat lain. Acara jabat tangan itu dilakukan mulai dari para tamu undangan, para guru, kemudian para seminaris. Pada saat ini, banyak sekali ucapan terima kasih, harapan, dan lantunan doa yang ditujukan pada RD. Ardus Tanis yang sebentar lagi akan meninggalkan Bunda Sanpio.
Keseluruhan rangkaian acara baru berakhir pada pukul 14.00 WITA. Setelah doa penutup, para tamu undangan dan para guru mengantarkan RD. Ardus ke depan kapela. Selepas itu, RD. Ardus Tanis langsung berangkat ke Labuan Bajo.
“Saya pasti ingat dengan Romo Ardus. Saya tidak bisa tidur malam. Semoga Romo bisa berbahagia di tempat tugas baru, selayaknya di tempat ini. Salam tepo, Romo Ardus”, ungkap Kae Leksi sambil mengusap air mata di matanya. Ia menjelaskan kalau tepo sebagai istilah khas mereka dalam permainan kartu.
( Nera Liberty )
0 Comments