Seminari Pius XII Kisol histudy
  • Home
  • Tentang Kami
    • Sambutan
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Fasilitas
    • Profil Formator
    • Mars Sanpio
  • SMP
    • Profil
    • Berita
    • Kegiatan
  • SMA
    • Profil
    • Berita
    • Kegiatan
  • Asrama
  • Program
    • Aktivitas
    • Kalender Akademik
  • Berita
    • Umum
    • Penelitian
    • Pendidikan
    • Budaya
    • Opini
  • Hubungi Kami
Seminari Pius XII Kisol histudy

Selamat datang di Seminari Pius XII Kisol

  • admin@seminaripiusxii.sch.id
  • +1-202-555-0174
  • Home
  • Tentang Kami
    • Sambutan
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi
    • Fasilitas
    • Profil Formator
    • Mars Sanpio
  • SMP
    • Profil
    • Berita
    • Kegiatan
  • SMA
    • Profil
    • Berita
    • Kegiatan
  • Asrama
  • Program
    • Aktivitas
    • Kalender Akademik
  • Berita
    • Umum
    • Penelitian
    • Pendidikan
    • Budaya
    • Opini
  • Hubungi Kami
Sosial Media
blog banner background shape images
  • Rein Pondang
  • August 28, 2026

MELEPASKAN TRAUMA, BERDAMAI DENGAN GEMPA

  • 171 Views
  • No Comments
  • Berita,Sma,Smp,Umum

Gempa yang menimpa pulau Flores pada tanggal 15 Agustus 2026 mengakibatkan beberapa kerusakan pada bangunan yang ada di Sanpio. Kerusakan itu juga menyebabkan berbagai proses pendampingan dan pembinaan dan para seminaris tidak berjalan dengan efektif dan nyaman. Oleh karena itu, dihadapkan pada situasi ini, seminari segera mengambil kebijakan yang berkaitan dengan keberadaan para seminaris. Keputusannya adalah para seminaris disarankan untuk dirumahkan sampai dengan tanggal 11 September kecuali kelas XII SMA dan 9 orang siswa yang memilih untuk tetap tinggal di seminari. Pertimbangan utamanya adalah keselamatan, kesehatan, dan juga kenyamanan mereka. “Di saat situasi seperti ini para seminaris juga harus bersama orang tua. Secara psikologis, hal ini setidaknya bisa mengobati kerinduan dan kecemasan orang tua tentang anak-anak mereka di tengah situasi seperti ini”, tukas RD. Felix Edu.

Para seminaris dirumahkan bukan berarti bahwa seminari lepas tanggung jawab. Kebijakan ini diambil dengan berbagai pertimbangan yang matang terutama demi keselamatan para seminaris. Sementara itu, kelas XII dan 9 orang seminaris dari kelas X dan XI tetap tinggal di Seminari. Kelas XII tetap bertahan karena pertimbangan persiapan TKA pada bulan Oktober. Sementara 9 orang siswa lainnya memilih untuk tetap berada di Seminari karena pilihan sendiri setelah berkumpul bersama orang tuanya. Prinsipnya adalah mereka semua berada di bawah tanggung jawab dan pengawasan kami sepenuhnya. Kami akan selalu menjaga mereka, sehingga mereka tetap merasa aman, nyaman, dan merasakan bahwa ini adalah rumah yang luaskan mereka”, jelas RD.Very Warman selaku Praeses Seminari Pius XII Kisol.

Gempa dan Kerapuhan

Ketika gempa terjadi, siswa Sanpio sedang khusuk merayakan Ekaristi pagi. Siswa SMP bersama RD. Dion Labur Merayakan Ekaristi di Kapela utama. Sementara siswa SMA bersama RD. Milin Kowa merayakan Ekaristi di ruang doa SMA. Gempa itu berawal tepat setelah siswa SMA mendaraskan doa Bapa Kami. Saat itu, gempa masih terasa kecil dan biasa-biasa saja. Kekuatannya semakin dahsyat pada saat embolisme. “Anak-anak saat itu masih tenang. Mereka tidak lari. Mereka baru lari setelah doa Bapa Kami selesai didaraskan. Mereka tidak lagi keluar satu per satu, tapi berhamburan hendak menyelamatkan diri. Menariknya di saat itu sempat ada seorang siswa SMA yang menuju altar untuk menyelamatkan patung Yesus dan Bunda Maria” jelas RD. Milin Kowa.       

Para seminaris adalah saksi sejarah atas gempa yang terjadi karena mereka sendirilah yang mengalaminya. Mereka hidup dan tinggal dalam sejarah itu. Mereka sendiri jugalah yang menyaksikan betapa hebatnya guncangan gempa itu sampai meretakkan tembok-tembok yang dibangun oleh sang arsitek Belanda “P.Leo Perik, SVD”. Bangunannya tetap kokoh meskipun ada beberapa yang retak. Pater Leo telah mengukur semuanya dengan cermat dan teliti. Dia membangun dengan hati dan kecerdasaannya, sehingga kekokohan bangunan tetap bertahan meskipun diguncang dengan hebat. Akan tetapi, dihadapkan dengan gempa semuanya tetap tak berdaya. Kerusakan bangunan mengingatkan para seminaris bahwa gempa itu adalah sebuah kekuatan dahsyat yang bisa meluluhlantahkan apa saja. Kita boleh membangun dengan keringat dan perjuangan, namun dihadapkan dengan kekuatan gempa, kita tidak bisa melarangnya untuk tidak menghancurkan ataupun merusakkan segala yang telah kita bangun.

Gempa adalah salah satu momen yang menyadarkan kita semua bahwa kita itu rapuh. Tidak ada yang bisa menahan agar gempa itu tidak terjadi. Tidak ada pula yang bisa menahan setiap goncangan yang terjadi saat gempa. Yang bisa dibuat adalah menyelamatkan diri sambil berharap “semoga kami semua selamat”. Kerapuhan itu jelas terlihat pada setiap derita juga tangisan. Ada bangunan yang runtuh dan ada pula yang harus kehilangan segalanya bahkan orang-orang yang dicintai. Namun seperti Nasihat St. Agustinus dalam De Civitate Dei (Kota Allah), imanmu tak mungkin membuat engkau kehilangan harapan. Ketika gempa terjadi, kamu rapuh. Tapi kerapuhanmu itu harus dikuatkan oleh imanmu bahwa selalu ada harapan dalam Tuhan yang kau imani. Karena itu, tetaplah gelisah di dalam Tuhan sebab engkau akan tenang ketika selalu bersama dengan-Nya.

Berdamai dengan Gempa                      

Dari peristiwa ini, satu hal yang sulit disembuhkan dari diri para seminaris yakni trauma. Pengalaman trauma ini tidak hanya dialami oleh para seminaris, tapi mungkin juga oleh semua orang yang terdampak gempa Flores. Gempa dengan kekuatan 7,7 SR ini merupakan gempa dengan kekuatan besar kedua dalam sejarah pulau Flores setelah gempa tahun 1992. Setiap getaran yang muncul membuat para seminaris takut dan ingin berlari meninggalkan tempat mereka berpijak. Meskipun mereka berada di ruangan terbuka, namun ketika terdengar suara gemuruh mereka mau berlari bahkan berlari.

Gempa mungkin akan berakhir, tapi perasaan dan bayangan gempa masih akan selalu bertahan dalam diri setiap orang. Bayangan inilah yang membuat setiap orang selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan juga keengganan. Hal inilah yang dijelaskan dengan trauma. Dalam ilmu psikologis trauma digambarkan sebagai kondisi luka atau gangguan pada pikiran, perasaan, dan emosi seseorang yang muncul setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat menakutkan, menyakitkan, atau mengejutkan. Dalam konteks gempa bumi , trauma bukan berarti seseorang mengalami luka fisik, melainkan luka psikologis akibat pengalaman yang mengancam keselamatan dirinya atau orang-orang yang berada di sekitarnya. Gempa Flores meninggalkan luka psikologis karena pengalaman yang menakutkan itu selalu terekam dalam pikiran para seminaris.

Trauma seminaris pasca gempa terjadi dengan ketakutan dan keengganan untuk masuk ke dalam ruangan. Setiap getaran atau bunyi bangunan membuat para seminaris ketakutan yang berlebihan. Ketika ada getaran, mereka pasti berlari meskipun mereka berada di ruangan terbuka. Ini adalah gambaran traumatis yang ditampilkan oleh para seminaris setiap kali bumi Flores ini bergetar. “Bahkan ada juga yang merasakan bahwa bumi ini seolah-olah bergetar padahal tidak bergetar. Setiap kali dia berada di ruangan terbuka atau sedang santai membaca buku, mononton film, ataupun berdoa, dia merasa bahwa lantai atau tempat kakinya berpijak selalu bergerak atau bergetar”, tukas Pater Gordi, SX. Kondisi ini dalam ilmu psikologis disebut sebagai phantom tremor yaitu situasi dimana seseorang seolah-olah merasa tanah masih bergoyang padahal kondisinya tenang.

Situasi-situasi ini wajar dan manusiawi, namun jangan pernah dibiarkan bertumbuh. Trauma itu bukan menjadi tanda bahwa kita adalah orang yang lemah, melainkan sebagai ekspresi manusiawi atas respons perlindungan diri. Trauma itu harus disembuhkan. Penyembuhannya adalah dengan cara berdamai. Berdamai bukan berarti melupakan, melainkan tidak ada lagi rasa takut atau cemas ketika ada hal-hal serupa terjadi atau ketika kita mengingatnya kembali. “Ingatan akan gempa itu akan tetap ada, tapi ingatan itu tidak akan pernah membuat kita takut atau cemas lagi. Menyembuhkan trauma itu tujuannya untuk membuat kita tidak panik, sehingga ketika terjadi gempa kita dengan tenang tahu apa yang mesti kita buat. Panik itu justru akan mencelakakan diri sendiri”, jelas ibu Sri, Guru BK SMAS Seminari Pius XII Kisol.

Gempa Cup sebagai Trauma Healing

Setiap getaran dan bunyi bangunan menyisakan ketakutan bagi para seminaris. Meskipun bunyi bangunan itu bukan karena gempa, mereka tetap membenarkan bahwa itu adalah gempa. Akibatnya perasaan mereka dipenuhi dengan ketakutan. Ketakutan ini jika dibiarkan akan menimbulkan trauma yang mendalam, sehingga mengganggu proses perkembangan dan pertumbuhan mereka. Menanggapi situasi ini, Seminari melalui prefektur SMA mengadakan healing kecil-kecilan melalui program Gempa Cup.

Gempa Cup adalah turnamen bola kaki yang melibatkan semua warga komuntias yang ada di seminari. Jika dalam pertandingan bola kaki, yang bermain adalah kesebelasan, maka dalam Gempa Cup semuanya ikut bermain dalam satu pertandingan. Gempa Cup terbagi dalam dua grup yakni Ruha Lale FC dan Welwutir FC. Kedua nama tim ini diambil dari bahasa Manggarai yang menggambarkan situasi gempa itu sendiri. Ruha Lale adalah ungkapan orang Manggarai ketika mengalami gempa. Mereka akan berteriak sambil menyebut Ruha Lale. Sementara Welwutir adalah bahasa Manggarai yang menggambarkan orang-orang yang tidak bisa tenang. Bawaannya selalu mau bergerak atau sibuk tidak jelas.

Gempa cup resmi dibuka pada Sabtu (22/08/026) di lapangan seminari Pius XII Kisol. Turnamen ini diawali dengan apel dan foto bersama. RD. Milin Kowa selaku Prefek SMAS Seminari Pius XII Kisol dalam penegasannya mengatakan bahwa Gempa cup merupakan kesempatan terbaik bagi anak-anak untuk melepaskan rasa takut dan pengalaman trauma melalui bola kaki. “Gempa 15 Agustus membawa trauma dan ketakutan. Jika trauma ini selalu kita tinggalkan, kita akan selalu hidup dalam trauma itu dan itu justru sangat mengganggu. Bola kaki memang bukan satu-satunya pengganti penanganan trauma pasca gempa, tapi melalui bola kaki kita bisa menemukan keamanan dan kenyamanan dalam kebersamaan”, jelas RD. Milin Kowa. Oleh karena itu, trauma harus disembuhkan. Meskipun Gempa cup tidak secara otomatis menyembuhkan trauma, tapi setidaknya anak-anak dapat disembuhkan secara perlahan melalui energi yang dikeluarkan dalam turnamen bola kaki. Apalagi dalam pertandingan ini, semuanya ikut bertanding. Perlu ditegaskan bahwa jumlah anggota dalam satu tim adalah 23 orang termasuk para frater dan Romo. Gempa cup ini diadakan setiap sore dengan sistem kumpul poin. Jika hasil seri, poin untuk masing-masing tim adalah 1. Sementara poin kemenangan adalah 3 dan kalah itu 0.

Turnamen Gempa cup secara perlahan menghilangkan rasa trauma dari para seminaris yang berada di seminari. Mereka sungguh menikmati setiap proses yang dilalui. Di lapangan bola kaki, yang bergetar dan bergerak adalah diri mereka sendiri karena lapangan adalah ruang bagi mereka untuk mengejar dan menggiring bola. Mereka tidak lagi merasakan getaran atau guncangan kecil (gempa susulan) itu karena mereka selalu bergerak dan berlari. Dede Empang siswa kelas XII mengakui hal itu. Baginya lapangan dan bola kaki adalah ruang terbaik untuk melepaskan trauma. “kalau kami tidak beraktivitas atau bergerak, pikiran dan topik pembicaraan kami pasti selalu tentang gempa. Jadinya ketika ada suara di atas atap bangunan atau ada getaran, kami takut dan lari. Tapi melalui bola kaki, kami bisa melepaskan semuanya dan fokus kami lebih kepada bagaimana menjadi seorang pemenang dalam sepak bola”, tukasnya.

Selain melalui bola kaki, para seminaris juga melepaskan pengalaman trauma itu melalui kegiatan-kegiatan lainnya seperti kegiatan rohani (Ekaristi setiap pagi dan berdoa Rosario) dan kegiatan ekologis di kebun ekologis Sanpio. Para seminaris yang bertahan di seminari sungguh menikmati setiap proses yang mereka jalani. Mereka sungguh merasa nyaman meskipun situasi belum sungguh-sungguh aman bagi mereka. “Saya tidak pernah merasa rugi atau menyesal tidak pulang rumah. Saya justru bahagia dirumahkan di seminari ini karena memang seminari adalah rumah saya sendiri. Di sini pola hidup saya teratur mulai dari belajar, berdoa, kerja, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Apalagi setiap sore selalu punya keseruan melalui Gempa cup”, jelas Hiro Hamat seminaris asal Paroki Kumba. ( RD.Milin Kowa/red  )

0 Comments

Add Your Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait

Berita Terkait

Adaptasi Darurat Pasca-Gempa: Aktivitas Akademik Seminari Pius XII Kisol Bergeser ke Ruang Terbuka
Read Article
Satu Dinding Sejuta Inspirasi: Workshop Jurnalistik bersama Klub Baca Petra
Read Article
Romo Ardus, Selamat Berjuang di Tanah Misi yang Baru
Read Article
Footer Logo
Footer Dark Mode Logo

Temukan banyak update dan konten menarik lainnya di sosial media kami

Tautan Cepat
  • Hubungi Kami
Jelajahi
  • Tentang Kami
  • Kegiatan
  • Berita
  • Kalender Akademik
Kontak
  • Telepon: 406555-0120
  • E-mail: admin@seminaripiusxii.sch.id

Lokasi

  • Kisol, Kelurahan Tanah Rata, Kec. Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur

©2025. All rights reserved.