Dalam rangka menyongsong Festival Lembah Sanpio (FLS), Panitia mengadakan kegiatan workshop jurnalistik pada Senin (10/08). Judul besar yang diangkat dalam workshop ini adalah ‘Satu Dinding, Sejuta Inspirasi’. Kegiatan ini terjadi di Aula Seminari Pius XII Kisol. Adapun kegiatan ini dihadiri oleh beberapa sekolah mitra, yakni 5 (lima) SMA dan 6 (enam) SMP. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi peserta didik.
Fasilitator dalam aktivitas ini adalah tim klub buku Petra. Klub Baca Petra kemudian menghadirkan tiga narasumber, Greg Reynaldo, Gonsa Thundang, dan Armil Bell. Ketiganya ini memiliki rekam jejak sebagai penulis sekaligus seniman fotografi.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Festival Lembah Sanpio, RD. Feliks Edu, menyatakan latar belakang adanya kegiatan. Menurunya, literasi menjadi alasan kegiatan workshop dilaksanakan dalam Festival Lembah Sanpio. Beliau mengangkat contoh, urutan literasi Indonesia di Tingkat internasional sangatlah memprihatinkan. “Tentunya kegiatan ini tidak begitu berpengaruh bagi peningkatan kemampuan literasi kita. Akan tetapi saya berharap ini menjadi pemantik untuk meningkatkan semangat literasi kita, secara khusus saya katakan untuk Manggarai Timur ini”, tukas Kepala Sekolah SMP Seminari Pius XII Kisol tersebut.
Selanjutnya, Arsy Juwandi, selaku Master of Ceremony, mempersilahkan ketiga narasumber untuk memaparkan materi. Greg Reynaldo, narasumber pertama, menjelaskan tentang pentingnya majalah dinding (MADING) untuk para peserta didik. Beliau melihat bahwa mading seringkali dipahami secara keliru. Pada mulanya, mading didesain untuk memuat informasi penting dari sekolah, sekaligus bersifat komunikasi sosial. Belakangan ini, mading didominasi oleh rubrik sastra dan opini. Dengan demikaian, kekhasan dari mading sebagi media informasi turut hilang.
Gonsa Thundang secara khusus membahas desain mading. Mading yang diminati pertama-tama harus mengandung unsur seni pada “tata letak”. Latar yang kreatif akan menarik perhatian para pembaca. Menurutnya, seorang pembaca bukan hanya mementingkan isi, melainkan juga desain yang menarik.
Selanjutnya pemaparan meteri terakhir oleh Armil Bell. Materi yang dipaparkan adalah eksistensi mading di tengah era digital. Beliau mulai dengan kecenderung manusia yang menyukai hal-hal instan. Mental seseorang terbentuk melalui kebiasaan scrolling media sosial. Hal ini memengaruhi tingkat kesabaran seseorang. Dalam dunia nyata, individu seperti itu sangatlah tidak sabaran. Kemudian, beliau memandingkan media sosial dan mading. Pemimpin Redaksi Klub Baca Petra tersebut mengutarakan pentingnya membaca. Ia menitipkan pesan agar kiranya semua peserta lebih berminat untuk menulis dan membaca, ketimbang menghabiskan waktu untuk scrolling medsos.
Pada pukul 16:30 WITA kegitan ditutup secara resmi oleh RD. Feliks Edu. Para peserta kemudian melakukan syanora. Sebelum meninggalkan ruangan kegitan, semua peserta, guru pendamping bersama dengan narasumber diminta untuk melakukan foto bersama. “Banyak hal yang saya dapatkan pada workshop hari ini. Sepertinya, workshop ini tidak hanya berguna untuk para peserta didik, tetapi juga untuk kami para guru yang mendamping siswa”, tukas Fr. Irnus Kuwu, Guru SMAS Pancasila Borong, ketika diwawancari Redaksi.
Dilfa Latip
0 Comments